woman of real beauty
smiles in trouble,
gathers strength from distress
and grows brave
thru reflection and prayer

   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Life is a challenge, meet it.
Life is a gift, accept it.


Life is an adventure, dare it.
Life is a sorrow, overcome it.


Life is a tragedy, face it.
Life is a game, play it.


Life is a duty, perform it.
Life is mystery, unfold it.


Life is a song, sing it. Life is an opportunity, take it.


Life is a beauty, praise it. Life is a goal, achieve it


Life is a journey,complete it.
Life is a struggle, fight it.


Life is a puzzle, solve it.
Life is love, LOVE it.

[bUNgA-tAzKiya]
[dAiLy-jOurNaL]



bLoGWalKiNg tIMe
[mamal-Jkt]
[hanum-Bks]
[bangIman-Jkt]
[ummuNida-S'pore] [arulkhan-Jkt] [Ir@-Jkt] [Mommy&Zubia-Munich] [BidadariMungil-DenHaag] [UmmuThoriq-Sapporo] [yenthree-Jkt] [Woro-Woro] [MamiMela-Hokkaido] [Hani-Leich]


RecOMmenDed fOr U
[Voice for Islam]
[Gema Insani]
[Nakita-Anak]
[Republika]
[Belajar html]

[Questions of Life]
[Fountain Magazine]
[The Meaning of Life]

Tentang Indonesian Muslim Blogger


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Dec 14, 2006
Ocehan Gak Jelas dari Orang Puyeng

Ughhh... lagi pengen nyepi. Lelah. Jenuh. Bukannya bosan hidup, tapi enggan menatap masa depan. Hehe... sama aje kaleee!

Akhir tahun. I end up this year with nothing. Masih di sini, kursi yang sama, gaji yang sama, capability yang itu-itu aja. Well... ada sedikit kemajuan. But still... i think its not worth for a year.

Lima tahun! anak lima tahun sudah jauh bisa melakukan apa pun daripada anak yang baru lahir. I'm here, 5 years, and i still feeling that i'm nothin. Bukannya tidak bersyukur. Saya bahkan sangat bersyukur dengan kedupan saya sekarang. Tapi ada yang tercabut setelah saya bekerja, lima tahun yang lalu. I feel lonely! I got terrible social life. Life is for work. Yaikss!

Ofcourse life changes. Surely! I'm no longer 20 years old grown up woman after teenager, i'm a mature woman. Dan tentu saja kesehariannya tidak akan pernah sama dengan mahasiswi. Dan kemampuan geraknya juga bukan tak terbatas. Apakah saya merasa dalam katak dalam tempurung? Definitely! Dan apakah penyebabnya karena menikah? Hmm... i dont think so. This daily life is a dull. Dan most of my life spent for works. Aha! Here it goes! This scam bag office!

Halah... gw ngomong apaan sehhhh??? Ga jelas! Pokoknya gw lagi muak abis sama perusahaan!!!

Oh... adakah gerangan employer yang baik hati dan tidak sombong yg mau menerima gw? Gw orang yg baik hati dan tidak sombong juga lo....


Posted at 09:15 am by albirru
Comments (2)  

Jul 20, 2005
:: Apakah Dirimu Menyenangkan? ::

Gimana sih rasanya jadi orang yang tidak menyenangkan?

Ketika masih kecil, saya pernah punya tetangga yang galaknya menyaingi herder. Kebetulan halaman rumah tetangga saya itu ditumbuhi pohon jambu yang buahnya menjulur ke luar pagar. Namanya anak-anak kan pasti suka ngambilin tuh, meski belum tentu juga dimakan. Nah, pemiliknya pasti ngamuk bahkan kalau ada yang nyentuh pagar rumahnya. (Eh, kok mirip Pak Raden sih??) Semua anak-anak lari tunggang langgang kalau kepala botaknya muncul. Saya menyimpulkan orag itu tidak menyenangkan dan patut dihindari.

Di kantor lain lagi. Ada golongan kasta aria alias petinggi yang widiiih... syerem deh kalo diliat. Jadi kalo papasan entah kenapa males nyapa. Pernah sekali-sekali nyapa... eeee... dicuekin! Emang enak??? Emang sih nggak rugi nyapa duluan meski nggak dibalas, cuma jadi bete aja kali ye.... Saya sekali lagi menyimpulkan dia tipe orang yang tidak menyenangkan. Dan akhirnya... mending cepat-cepat angkat kaki dari depan orang itu deh daripada ill-feel.

Ibu saya. Dia jadi orang yang paling ditakuti kalau teman-teman main ke rumah. Nggak waktu saya SD nggak waktu kuliah, mereka pasti ngeper kalo ngeliat ibu saya. Katanya ibu saya jutek. Hehe... Iya lah... masak ada tamu bukannya diopeni, minimal disapa lah... boro-boro dikasih minum, disuruh, makan, atau diajak ngobrol. Ini cuma didiemin aja. Emang enaaaakk?? Hehe...

Sebenarnya, menjadi orang menyenangkan atau tidak adalah pilihan. Tinggal ikuti aja konsekuensi di belakang pilihan itu. Kalo ada anak-anak yang ribut main di lapangan samping, terserah kita mau diusir-usirin atau menyapa mereka baik-baik dan mengajak main permainan yang lebih kalem di dalam rumah kita. Memang sih, susah juga ngajak mereka main di dalam rumah kita kalau tanduk lagi numbuh di kepala, atau trisula ada di tangan, cuma kita berhenti sejenak dan mikir lebih lama efek dari tindakan yang akan kita lakukan. Kita ngamuk, mereka takut dan ngecap kita orang yang menyebalkan, atau... kita ajak mereka main scrabble di dalam rumah, dan kita dibilang orang yang ramah.

Nnng... apa selama ini saya sebenarnya cukup menyenangkan, ya?

Posted at 04:54 pm by albirru
Comment (1)  

Jun 21, 2005
:: Menyenangkan Nggak Menyenangkan ::

Menyenangkan nggak ya jadi orang yang nggak menyenangkan? Kok saya mulai berpikir saya ini orang yang nggak menyenangkan sih? He he...

Posted at 11:20 am by albirru
Comments (3)  

May 27, 2005
:: Gibran, You God Damn Right! ::

Ibu adalah kata-kata terindah yang terucap dari bibir manusia…

Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan, dan toleransi.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Ibu adalah jiwa kebadian bagi semua wujud.

Penuh cinta dan kedamaian.

(Gibran Kahlil Gibran)

 

Dua puluh tahun usia saya, mencari makna kata Ibu. Separuh jiwa saya terpakai ketika berusaha menuliskan definisi tentang ibu. Dan sebuah keajaiban, kini saya adalah seorang ibu, dan mengenal sosok lain seorang ibu selain ibu yang pernah mengandung diri ini.


Mama, panggilan saya pada seorang yang melahirkan belahan jiwa saya, suami terkasih. Mama…. Selalu hanya cekat yang ada di tenggorokan ketika melihat sosoknya. Betapa ia telah menghentikan pencarian saya akan definisi seorang ibu. Dahulu saya tidak pernah melihat bentuk sebuah tugas keibuan, dan tak pernah membuktikan keindahan definisi itu.

 

Mama… kehidupan yang berdenyut di rumah itu adalah Mama. Ketegaran, kesetiaan, pengabdian, keceriaan, ketelatenan, keharmonisan, ketulusan, adalah Mama.


Sejak delapan tahun yang lalu Papa tak lagi bekerja. Kena PHK. Sejak itulah arti kesetiaan diuji dalam diri perempuan yang saya kenal sejak dua tahun yang lalu itu. Dalam kesederhanaan, beliau menjadi mentari bagi kelima anaknya. Maksud saya dengan mentari adalah... menjadi hidup untuk kehidupan. Tanpa hidupnya, nampaknya sulit ada kehidupan yang lain.


Sejak SMP saya selalu mengerjakan semuanya sendiri. Mencuci, menyetrika, bahkan seringkali masak. Entah apa tujuan ibu, tetapi memang Ibu tak mau melakukan itu semua untuk saya. Mungkin terlalu banyak tugas yang dikerjakannya. Dampak baiknya memang saya menjadi orang yang amat sangat mandiri, bahkan sampai punya pikiran bahwa saya tidak membutuhkan ibu -kecuali untuk melahirkan saya saja. Ketika berada di rumah suami saya, cukup terhenyak juga saya karena semua... sekali lagi, semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Mama. Mencuci semua pakaian, memasak, menyiram, menyapu, mengepel, semuaaaa Mama. Sampai saya nggak enak ati sendiri meletakkan pakaian kotor di keranjang. Tapi Mama tak pernah membiarkan saya mengerjakannya sendiri. Tak ada keluhan sedikit pun. O...oooh.. kalo begini caranya kata-kata Gibran itu benar.

Mama... saya bisa mengobrol dengannya tanpa jeda. Dengan ibu... ooh... no! Hanya cekat yang mencekik tenggorokan saya hingga saya terkaget-kaget sendiri mendengar suara aneh yang keluar dari mulut saya sendiri. Really not me! Kaku dan datar.

Ketika anak saya lahir, Mama yang mengajarkan saya memandikannya. Kini... beliau yang menjaganya 8 jam, padahal saya sendiri hanya 4 jam dikurangi waktu tidur. Kalau dibandingkan dengan keponakan saya yang tinggal di rumah saya dulu, paling hanya sekali digendong ibu dalam sehari. tak ada istilah "makan sama Nenek", atau... "dimandiin Nenek." Hehe.... Kasihan....


Posted at 01:09 pm by albirru
Comment (1)  

May 23, 2005
:: Ibu, Jelaskan Artimu Untukku ::

Ibu adalah kata-kata terindah yang terucap dari bibir manusia…

Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan, dan toleransi.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Ibu adalah jiwa kebadian bagi semua wujud.

Penuh cinta dan kedamaian.

(Gibran Kahlil Gibran)

 

Di sini saya termanggu, mendefinisikan sebuah kata sederhana namun terlalu sulit dicerna karena definisi itu tak pernah berdamai dengan memori ini. Cinta, kehangatan, mentari, adalah ibu.

 

Begitu indah Islam menggambarkan peran ibu dalam mencipta peradaban dunia. Tak terkira ungkapan Rasulullah agar kita memuliakan orang yang pernah mengandung kita selama sembilan bulan di tubuhnya.

 

Sepanjang 23 tahun usia, saya mencoba memaksakan semua definisi indah tentang ibu, tapi hanya kegagalan yang mendera. Ibu selalu membuat saya terluka. Ketika luka itu mulai mengering, ia dihantam lagi hingga berdarah. Begitu lelah saya menjalani hari dalam siksaan, menafikan pengingkaran saya terhadap definisi itu.

 

Bagi saya, ibu adalah sebuah tembok beton yang diplester dan dicat putih tanpa detail dan ornamen, apalagi lukisan. Di beberapa bagiannya ada paku yang mencuat ke luar, bukan satu tapi banyak. Mungkin ia suci tapi tak menyenangkan. Tak ada sentuhan yang membuat saya tersenyum bahkan tertawa melihatnya. Ibu saya… tak pernah berbicara, kecuali suruhan. Tak pernah bercerita kecuali tentang dirinya sendiri. Tak pernah bertanya sedikit pun tentang pelajaran saya hari ini, atau tentang nilai merah yang selalu duduk manis di sebelah pelajaran matematika saya. Sepanjang saya mulai belajar membaca hingga terakhir saya membenci matematika. Dan ini terjadi pada kesepuluh anak ibu, yang pada akhirnya memilih untuk lari dan menutup diri.

 

Sakit hati saya, karena saya ingin mengingkari semua kenyataan itu tetapi terlampau dalam rasa itu. Saya tersungkur lalu bangun dan terjerembab lagi saat memberi warna surga dalam definisi saya tentang ibu. Mulai dari janji-janji menata hati, sampai dengan coretan-coretan rencana usaha jangka pendek dan panjang dalam menghadapi ibu. Check list tentang hal-hal yang disukai ibu. Kiat-kiat pendekatan kepada ibu. Namun semua itu membeku ketika saya berada di hadapannya. Sentuhan yang dengan hati luar biasa kaku saya hadirkan di mata ibu, hanya menjadi sebuah aktivitas tanpa ekspresi, tanpa rasa. Dingin. Hampa.

 

Saya gagal setelah 14 tahun membasahkan  pelupuk dengan air asin yang terasa pahit di kerongkongan saya. Akhirnya saya memilih untuk membekukan hati. Meninggalkan ibu saya.

 

Tiga tahun saya tenggelam dalam dinginnya hari tanpa siraman kasih ibu.  Bahkan sebuah kalimat, enggan saya sodorkan kepadanya. Duh, Allah, betapa hati ini terkoyak menjauh darimu, dari telapak yang kata orang bersemayam surga di dalamnya. Tapi saya tak bisa membohongi hati dan perasaan saya terus-menerus. Salahkah saya dalam rasa ini, sedang kesembilan anak ibu juga merasakan hal yang sama, bahkan ayah. Sakit luar biasa. Ataukah kami semua yang durhaka pada ibu, pada Allah. Ya rahiim… mohon kasih-Mu.

 

Ibu… tolong jelaskan artimu….


Posted at 05:58 pm by albirru
Comments (2)  

May 12, 2005
:: Ironi ::

Kebon Singkong, Rabu, 10 Mei 2005

Seorang perempuan setengah baya, mungkin berusia akhir dua puluhan, meringis menahan sakit yang bersumber dari perutnya. Sembilan bulan bayi dalam kandungannya sudah merengek minta keluar. Kebon kosong itu cukup sepi meski tengah hari bolong. Disebelah utara dekat gerumbul pohon bambu tegak beberapa nisan dengan pahatan aksara cina. Deretan pohon singkong di sebelah timur berjajar rapat melindungi tubuh perempuan itu bahkan dari terpaan cahaya lembut sore hari pukul tiga. Kalaulah bayi dalam kandungannya itu jelas asal usul ayahnya, mungkin perempuan itu akan memilih untuk berbaring di kasur rumah sakit, ditemani suami tercinta, daripada menahan sakit sendirian di tengah sepi kebon singkong itu.

Pukul empat sebuah keajaiban terjadi. Seorang bayi mungil kemerahan menyapa dunia tanpa bantuan bidan atau dokter mana pun. Namun yang terjadi berikutnya adalah tangis merdu sang bayi dibungkam dengan sehelai kain yang sejak awal dibawa oleh perempuan itu. Seperti anjing, perempuan itu mengais-ngais tanah. Kehidupan sebuah jiwa dikubur!

 

Rumah Sakit Pasar Rebo, Rabu, 10 Mei 2005

Seorang perempuan setengah baya, berusia awal tiga puluhan, meringis menahan kontraksi yang kian hebat. Lima bulan bayi dalam kandungannya, tak sabar melihat ibu terkasihnya. Sejak awal kehamilan sang ibu menyambutnya dengan cita. Anak ketiga, setelah kehilangan anak kedua dalam usia 8 bulan di kandungan. Begitu sulit mempertahankan kehamilannya. Perawatan demi perawatan hingga akhirnya bed-rest total hingga menjelang kelahiran yang batas maksimalnya 5 bulan. Setelah menjalani pendarahan selama satu setengah bulan, vonis terakhir memutuskan bahwa kehamilannya tidak dapat dilanjutkan. Dokter memeperkirakan calon bayinya tidak akan bertahan lama lagi. Asumsi akhir janin sudah tidak bernyawa. Operasi caesar harus dilakukan.

Pukul empat sebuah keajaiban terjadi. Bayi super mungil lahir dengan berat 300 gr. Hidungnya mancung seperti ibunya. Laki-laki. Denyut jantungnya masih kuat. Pukul lima sore, ia menjelma bidadara penghias surga.

 

Tragis. Terlalu banyak ironi di dunia ini. Di saat seorang perempuan mati-matian memperjuangkan hidup setitik nyawa dalam perutnya, di tempat lain seorang perempuan juga sedang berjuang untuk menghentikan kehidupan darah dan dagingnya sendiri. Sejak kapan orang sudah tidak percaya lagi pada nilai, pada jiwa? Tentunya terlampau banyak hikmah yang tersembunyi. Kita hanya bisa memunguti cecerannya dan mengumpulkannya dalam bundel buku pelajaran tentang hidup. Membenturkan diri kita lagi-lagi pada kedhaifan diri.

 

Sayangnya, terlalu mahal nilai itu. Muara kesyukuran itu memang harus melewati kelokan tajam bahkan kadang tak pernah diduga. Kisah di atas terjadi pada teman saya, seorang ibu satu anak yang sedang menanti anak ketiga setelah anak keduanya lahir di usia 7 bulan dan hidup hingga usia 8 bulan. Tak terkira getar rindunya pada kehadiran separuh jiwanya. Tak teraba dalam rasa saya kehilangan separuh nyawa.

 

Ada rangkaian teka-teki yang belum terjawab. Tentang alasan semua kejadian yang menimpanya. Ketika memandangi wajahnya, saya melihat ia sedang mencari jawabnya. Mungkin tak akan cepat ia menyimpulkan, tapi jawaban itu ada. Allah… berikan  kemudahan baginya untuk memahami rencana-Mu.


Posted at 12:42 pm by albirru
Comments (2)  

May 3, 2005
:: Dari Seorang Lelaki ::

Untuk para perempuan di manapun. Tinggikan hargamu di mata Allah...


Wanita Suci,
Mungkin aku memang tak romantis, tapi siapa peduli

Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku

Bagiku kau bukan bunga,

Tak mampu aku samakanmu dengan bunga-bunga terindah dan terharum sekalipun.

Bagiku manusia adalah makhluk terindah, tersempurna, tertinggi.

Bagiku dirimu salah satu manusia terindah, tersempurna, tertinggi

Karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

 

Wanita suci,

Jangan pernah kau biarkan aku menatapmu penuh,

Karena itu akan membuatku mengingatmu.

Beararti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.

Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.

Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.

Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh dengan lumpur, dirimu terlalu suci.

 

Wanita suci,

Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung,

Ada ingin tapi tak ada henti.

Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu,

Meski ujung penutupmu tak berani kusentuh.

Jangan pernah kalah oleh mimpi dan inginku

Karena sucimu, indahmu kau pertaruhkan.

Mungkin kau tak peduli, tapi kau hanya akan menjadi wanita biasa di hadapanku

Bila kau kalah, tak lebih dari wanita biasa.

 

Wanita suci,

Jangan pernah kau tatapku penuh,

Bahkan kau tak perlu lirikan matamu untuk melihatku.

Bukan karena aku terlalu indah, tetapi karena aku seorang manipulator.

Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku,

Mengenakan pakaian sutra emas, meniru laku para rahib,

Meski hatiku lebih kotor dari kubangan lumpur.

Kau memang suci, tetapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.

Karena toh kau hanya manusia hanya wanita,

Meski kau wanita suci.

 

Wanita suci,

Beri sepenuh diri pada dia sang lelaku suci

Yang dengan sepenuh diri bawamu pada Tuhan.

Untuknya dirimu ada, itu kata otakkku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.

Tunggu sang lelaku suci menjemputmu

Dalam rangkaian khitbah dan akad.

Atau kejar sang lelaki suci, itu adalah hakmu.

Seperti dicontohkan ibunda Khadijah.

Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

 

Wanita suci,

Bariskan harapmu pada istikharah penuh arti ikhlas.

Relakan Tuhan pilihkan lelaki suci bagimu, mungkin sekarang atau nanti

Bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.

Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di alam permainan saat ini.

Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu

Yang kau bangun dengan seluruh kekhusyu’an ibadah.

 

Wanita suci,

Pilihan Tuhan tak selalu seindah inginmu, tapi itulah pilihan-Nya.

Tak ada yang lebih baik dari pilihan Tuhan.

Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki terpilih itu,

Melainkan pada jalan yang kau pilih,

Seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu

Yang meminta keislaman sebagai mahar pernikahan.

Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu

Menerima keputusan Sang Kekasih Teritinggi.

Kekasih tempat kita (seharusnya) memberi semua cinta

Dan menerima cinta yang tak terhingga dalam tiap detik hidup kita.


 


Posted at 03:17 pm by albirru
Make a comment  

May 2, 2005
:: Izinkan aku Mengenyahkanmu ::

   Kenyataan mungkin sering menghenyakkan kita. Tak mengira itu terjadi dekat sekali dengan kehidupan. Berapa sering saya mendengar maksiat di mana-mana, tapi saya hanya beristigfar, lalu melanjutkan hidup seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Terlalu sering. 

   Ketika ia menimpa saudara dekat, yang kebersamaannya melebih kebersamaan saya dengan keluarga, sepertinya saya tidak terima dan merasa terkhianati. Saya merasa terabaikan. Bagaimana mungkin ia dapat melakukan hal-hal yang dilaknat Allah sementara saya hadir di sisinya selalu. Membagi suka dan air mata. Meluangkan waktu untuk keluhan-keluhannya yang kini saya kira tak ada guna.

   Arti nasehat-nasehat (atau reminder) saya selama ini berarti hampa. Tak ada makna. Tak hentinya saya menyumpah pada diri saya, betapa begitu bodohnya saya tertipu. Tertipu oleh teman sendiri. Ya, saya merasa telah dibohongi!

   Entah dengan apa saya memahami alasan dirinya. Harus bagaimana saya menjejali otak ini dengan logikanya yang semrawut, setidaknya menurut saya yang masih berusaha mengalirkan asma-Nya dalam tiap gerakan partikel darah ini.

   Allahku... sakit rasanya. Tolong obati...
   Sobat, maaf... aku akan melepaskan dirimu. Terlalu sakit.

   

Posted at 06:02 pm by albirru
Comments (2)  

Apr 27, 2005
:: Satu Jam di Cipto ::

Pagi itu kabar yang saya terima membuat persendian seperti dilolosi satu-persatu. Anaknya rekan saya, Pak Hasan, baru saja menjalani operasi Sabtu sore kemarin. Jatuh dari lantai dua. Benak saya terbentur oleh wajah Tazq yang sedang lucu-lucunya belajar berjalan.

Selentingan yang saya terima, biaya operasinya saja 12 juta rupiah. Pheww.... Dan saya cukup tahu kondisi Pak Hasan yang sehari-harinya ada di percetakan kantor ini. Entah dari mana beliau dapat menutup semua biaya. Yang saya tahu, akhirnya uang sisa akhir minggu saya serahkan ke dalam amplop saweran teman-teman sekantor.

Sore kami menuju Jakarta. Padat. Macet. Padahal 80 persen perjalanan kami ditempuh di jalan tol. Cipto nan mendirikan bulu roma. Selalu setiap saya melewati lorong-lorong panjangnya, hati tak pernah tenang. Bangunan tinggi yang tua itu tidak pernah nyaman bagi saya. Tikar-tikar lusuh digelar dengan pemilik yang duduk di atasnya juga tak kalah lusuh. Termos air, plastik kresek hitam, sandal jepit butut. Bangsal luas dengan wajah-wajah sederhana nyaris tanpa senyum.

Fathan, baru saja dioperasi kemarin malam. Kepalanya membengkak dibebat perban. Di mata itu saya melihat wajah Tazq, anak saya. Dia duduk dengan ringisan tak kunjung reda, dipeluk ibunya. Jarum infus menusuk tangan kirinya. Bangsal syaraf itu campur aduk. Remaja dengan kepala diperban mondar-mandir. Bapak-bapak yang tangan dan kepala terbebat teriak-teriak tak karuan dalam bahasa Sundanya. Suster gemuk mendorong kereta obat dengan cuek, tak mengindahkan panggilan pasiennya. Teman saya malah dimaki oleh suster karena terus menerus melihat pasien yang selalu berteriak itu. Apa lu liat-liat! He... he....

Shalat Maghrib, saya mesti ke ruangan lain yang ada toiletnya. Di situ ada 5 kasur pasien, cuma satu yang terisi. Dan hanya ia yang ada di ruangan itu. Perempuan seusia kakak saya. Orang yang menunggunya katanya di luar. Ugh... Kenapa juga mesti ditunggui kalo menungguinya di luar? Perempuan itu... kelopak matanya membengkak. Pembuluh darah yang pecah akibat kecelakaan enam tahun lalu, katanya. Satu bulan sudah ia di berbaring di sana. Ia meninggalkan anak dan suaminya di rumah. Oo.. dia seorang ibu. Sedikit saya berbincang dengannya setelah berwudhu. Terakhir saya berkata kepadanya, "Sabar ya Mbak... ini ujian dari Allah. Ini perjuangann Mbak." Mencoba dengan tegar meyakinkannya, tapi getar dalam suara saya tak dapat dilihangkan karena cekat di kerongkongan. Ah... kenapa saya yang jadi demikian cengeng, padahal dia yang mengalami ujian?



Posted at 05:49 pm by albirru
Make a comment  

Apr 20, 2005
:: Hentikan Waktu ::

izinkan aku berhenti
di terminal hati yang kian mati
terpeluk pekat

bersama halimun beku
yang menahan degupku

bersama rinai yang
coba kutangkap satu-satu

izinkan aku mengurai
ingatanku akan masa itu

saat sujudku basah
di pelataran cinta-Mu

Posted at 02:35 pm by albirru
Make a comment  

Next Page