Pagi itu kabar yang saya terima membuat persendian seperti dilolosi satu-persatu. Anaknya rekan saya, Pak Hasan, baru saja menjalani operasi Sabtu sore kemarin. Jatuh dari lantai dua. Benak saya terbentur oleh wajah Tazq yang sedang lucu-lucunya belajar berjalan.
Selentingan yang saya terima, biaya operasinya saja 12 juta rupiah. Pheww.... Dan saya cukup tahu kondisi Pak Hasan yang sehari-harinya ada di percetakan kantor ini. Entah dari mana beliau dapat menutup semua biaya. Yang saya tahu, akhirnya uang sisa akhir minggu saya serahkan ke dalam amplop saweran teman-teman sekantor.
Sore kami menuju Jakarta. Padat. Macet. Padahal 80 persen perjalanan kami ditempuh di jalan tol. Cipto nan mendirikan bulu roma. Selalu setiap saya melewati lorong-lorong panjangnya, hati tak pernah tenang. Bangunan tinggi yang tua itu tidak pernah nyaman bagi saya. Tikar-tikar lusuh digelar dengan pemilik yang duduk di atasnya juga tak kalah lusuh. Termos air, plastik kresek hitam, sandal jepit butut. Bangsal luas dengan wajah-wajah sederhana nyaris tanpa senyum.
Fathan, baru saja dioperasi kemarin malam. Kepalanya membengkak dibebat perban. Di mata itu saya melihat wajah Tazq, anak saya. Dia duduk dengan ringisan tak kunjung reda, dipeluk ibunya. Jarum infus menusuk tangan kirinya. Bangsal syaraf itu campur aduk. Remaja dengan kepala diperban mondar-mandir. Bapak-bapak yang tangan dan kepala terbebat teriak-teriak tak karuan dalam bahasa Sundanya. Suster gemuk mendorong kereta obat dengan cuek, tak mengindahkan panggilan pasiennya. Teman saya malah dimaki oleh suster karena terus menerus melihat pasien yang selalu berteriak itu. Apa lu liat-liat! He... he....
Shalat Maghrib, saya mesti ke ruangan lain yang ada toiletnya. Di situ ada 5 kasur pasien, cuma satu yang terisi. Dan hanya ia yang ada di ruangan itu. Perempuan seusia kakak saya. Orang yang menunggunya katanya di luar. Ugh... Kenapa juga mesti ditunggui kalo menungguinya di luar? Perempuan itu... kelopak matanya membengkak. Pembuluh darah yang pecah akibat kecelakaan enam tahun lalu, katanya. Satu bulan sudah ia di berbaring di sana. Ia meninggalkan anak dan suaminya di rumah. Oo.. dia seorang ibu. Sedikit saya berbincang dengannya setelah berwudhu. Terakhir saya berkata kepadanya, "Sabar ya Mbak... ini ujian dari Allah. Ini perjuangann Mbak." Mencoba dengan tegar meyakinkannya, tapi getar dalam suara saya tak dapat dilihangkan karena cekat di kerongkongan. Ah... kenapa saya yang jadi demikian cengeng, padahal dia yang mengalami ujian?
Posted at 05:49 pm by albirru