woman of real beauty
smiles in trouble,
gathers strength from distress
and grows brave
thru reflection and prayer

   

<< May 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Life is a challenge, meet it.
Life is a gift, accept it.


Life is an adventure, dare it.
Life is a sorrow, overcome it.


Life is a tragedy, face it.
Life is a game, play it.


Life is a duty, perform it.
Life is mystery, unfold it.


Life is a song, sing it. Life is an opportunity, take it.


Life is a beauty, praise it. Life is a goal, achieve it


Life is a journey,complete it.
Life is a struggle, fight it.


Life is a puzzle, solve it.
Life is love, LOVE it.

[bUNgA-tAzKiya]
[dAiLy-jOurNaL]



bLoGWalKiNg tIMe
[mamal-Jkt]
[hanum-Bks]
[bangIman-Jkt]
[ummuNida-S'pore] [arulkhan-Jkt] [Ir@-Jkt] [Mommy&Zubia-Munich] [BidadariMungil-DenHaag] [UmmuThoriq-Sapporo] [yenthree-Jkt] [Woro-Woro] [MamiMela-Hokkaido] [Hani-Leich]


RecOMmenDed fOr U
[Voice for Islam]
[Gema Insani]
[Nakita-Anak]
[Republika]
[Belajar html]

[Questions of Life]
[Fountain Magazine]
[The Meaning of Life]

Tentang Indonesian Muslim Blogger


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



May 12, 2005
:: Ironi ::

Kebon Singkong, Rabu, 10 Mei 2005

Seorang perempuan setengah baya, mungkin berusia akhir dua puluhan, meringis menahan sakit yang bersumber dari perutnya. Sembilan bulan bayi dalam kandungannya sudah merengek minta keluar. Kebon kosong itu cukup sepi meski tengah hari bolong. Disebelah utara dekat gerumbul pohon bambu tegak beberapa nisan dengan pahatan aksara cina. Deretan pohon singkong di sebelah timur berjajar rapat melindungi tubuh perempuan itu bahkan dari terpaan cahaya lembut sore hari pukul tiga. Kalaulah bayi dalam kandungannya itu jelas asal usul ayahnya, mungkin perempuan itu akan memilih untuk berbaring di kasur rumah sakit, ditemani suami tercinta, daripada menahan sakit sendirian di tengah sepi kebon singkong itu.

Pukul empat sebuah keajaiban terjadi. Seorang bayi mungil kemerahan menyapa dunia tanpa bantuan bidan atau dokter mana pun. Namun yang terjadi berikutnya adalah tangis merdu sang bayi dibungkam dengan sehelai kain yang sejak awal dibawa oleh perempuan itu. Seperti anjing, perempuan itu mengais-ngais tanah. Kehidupan sebuah jiwa dikubur!

 

Rumah Sakit Pasar Rebo, Rabu, 10 Mei 2005

Seorang perempuan setengah baya, berusia awal tiga puluhan, meringis menahan kontraksi yang kian hebat. Lima bulan bayi dalam kandungannya, tak sabar melihat ibu terkasihnya. Sejak awal kehamilan sang ibu menyambutnya dengan cita. Anak ketiga, setelah kehilangan anak kedua dalam usia 8 bulan di kandungan. Begitu sulit mempertahankan kehamilannya. Perawatan demi perawatan hingga akhirnya bed-rest total hingga menjelang kelahiran yang batas maksimalnya 5 bulan. Setelah menjalani pendarahan selama satu setengah bulan, vonis terakhir memutuskan bahwa kehamilannya tidak dapat dilanjutkan. Dokter memeperkirakan calon bayinya tidak akan bertahan lama lagi. Asumsi akhir janin sudah tidak bernyawa. Operasi caesar harus dilakukan.

Pukul empat sebuah keajaiban terjadi. Bayi super mungil lahir dengan berat 300 gr. Hidungnya mancung seperti ibunya. Laki-laki. Denyut jantungnya masih kuat. Pukul lima sore, ia menjelma bidadara penghias surga.

 

Tragis. Terlalu banyak ironi di dunia ini. Di saat seorang perempuan mati-matian memperjuangkan hidup setitik nyawa dalam perutnya, di tempat lain seorang perempuan juga sedang berjuang untuk menghentikan kehidupan darah dan dagingnya sendiri. Sejak kapan orang sudah tidak percaya lagi pada nilai, pada jiwa? Tentunya terlampau banyak hikmah yang tersembunyi. Kita hanya bisa memunguti cecerannya dan mengumpulkannya dalam bundel buku pelajaran tentang hidup. Membenturkan diri kita lagi-lagi pada kedhaifan diri.

 

Sayangnya, terlalu mahal nilai itu. Muara kesyukuran itu memang harus melewati kelokan tajam bahkan kadang tak pernah diduga. Kisah di atas terjadi pada teman saya, seorang ibu satu anak yang sedang menanti anak ketiga setelah anak keduanya lahir di usia 7 bulan dan hidup hingga usia 8 bulan. Tak terkira getar rindunya pada kehadiran separuh jiwanya. Tak teraba dalam rasa saya kehilangan separuh nyawa.

 

Ada rangkaian teka-teki yang belum terjawab. Tentang alasan semua kejadian yang menimpanya. Ketika memandangi wajahnya, saya melihat ia sedang mencari jawabnya. Mungkin tak akan cepat ia menyimpulkan, tapi jawaban itu ada. Allah… berikan  kemudahan baginya untuk memahami rencana-Mu.


Posted at 12:42 pm by albirru

zubia
May 16, 2005   08:23 AM PDT
 
Oh ya Te, ini YM idnya mami, tapi biasanya malam2 waktu Jerman gini onlinenya..
maryatni

Punya tante apa?
zubia
May 16, 2005   07:52 AM PDT
 
duuuh sedih deh bacanya...Semoga temen tante Mimin dikaruniai kesabaran yang berlimpah. Bagaimanapun juga, kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kita, orang tuanya. InsyaAllah kelak mereka siap menanti Bundanya di pintu surga.
Ttg perempuan2 yang membunuh darah dagngnya sendiri...no comment Te, mudah-mudahan memang ada kekuatan maha dahsyat yang sampai bisa membunuh naluri keibuannya. tapi apakah itu??? Tak terbayangkan dan kan akan pernah terpahamkan...

Terima kasih doanya untuk Daddy ya Te..
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry