Kebon Singkong, Rabu, 10 Mei 2005
Seorang perempuan setengah baya, mungkin berusia akhir dua puluhan, meringis menahan sakit yang bersumber dari perutnya. Sembilan bulan bayi dalam kandungannya sudah merengek minta keluar. Kebon kosong itu cukup sepi meski tengah hari bolong. Disebelah utara dekat gerumbul pohon bambu tegak beberapa nisan dengan pahatan aksara cina. Deretan pohon singkong di sebelah timur berjajar rapat melindungi tubuh perempuan itu bahkan dari terpaan cahaya lembut sore hari pukul tiga. Kalaulah bayi dalam kandungannya itu jelas asal usul ayahnya, mungkin perempuan itu akan memilih untuk berbaring di kasur rumah sakit, ditemani suami tercinta, daripada menahan sakit sendirian di tengah sepi kebon singkong itu.
Pukul empat sebuah keajaiban terjadi. Seorang bayi mungil kemerahan menyapa dunia tanpa bantuan bidan atau dokter mana pun. Namun yang terjadi berikutnya adalah tangis merdu sang bayi dibungkam dengan sehelai kain yang sejak awal dibawa oleh perempuan itu. Seperti anjing, perempuan itu mengais-ngais tanah. Kehidupan sebuah jiwa dikubur!
Rumah Sakit Pasar Rebo, Rabu, 10 Mei 2005
Seorang perempuan setengah baya, berusia awal tiga puluhan, meringis menahan kontraksi yang kian hebat. Lima bulan bayi dalam kandungannya, tak sabar melihat ibu terkasihnya. Sejak awal kehamilan sang ibu menyambutnya dengan cita. Anak ketiga, setelah kehilangan anak kedua dalam usia 8 bulan di kandungan. Begitu sulit mempertahankan kehamilannya. Perawatan demi perawatan hingga akhirnya bed-rest total hingga menjelang kelahiran yang batas maksimalnya 5 bulan. Setelah menjalani pendarahan selama satu setengah bulan, vonis terakhir memutuskan bahwa kehamilannya tidak dapat dilanjutkan. Dokter memeperkirakan calon bayinya tidak akan bertahan lama lagi. Asumsi akhir janin sudah tidak bernyawa. Operasi caesar harus dilakukan.
Pukul empat sebuah keajaiban terjadi. Bayi super mungil lahir dengan berat 300 gr. Hidungnya mancung seperti ibunya. Laki-laki. Denyut jantungnya masih kuat. Pukul lima sore, ia menjelma bidadara penghias surga.
Tragis. Terlalu banyak ironi di dunia ini. Di saat seorang perempuan mati-matian memperjuangkan hidup setitik nyawa dalam perutnya, di tempat lain seorang perempuan juga sedang berjuang untuk menghentikan kehidupan darah dan dagingnya sendiri. Sejak kapan orang sudah tidak percaya lagi pada nilai, pada jiwa? Tentunya terlampau banyak hikmah yang tersembunyi. Kita hanya bisa memunguti cecerannya dan mengumpulkannya dalam bundel buku pelajaran tentang hidup. Membenturkan diri kita lagi-lagi pada kedhaifan diri.
Sayangnya, terlalu mahal nilai itu. Muara kesyukuran itu memang harus melewati kelokan tajam bahkan kadang tak pernah diduga. Kisah di atas terjadi pada teman saya, seorang ibu satu anak yang sedang menanti anak ketiga setelah anak keduanya lahir di usia 7 bulan dan hidup hingga usia 8 bulan. Tak terkira getar rindunya pada kehadiran separuh jiwanya. Tak teraba dalam rasa saya kehilangan separuh nyawa.
Ada rangkaian teka-teki yang belum terjawab. Tentang alasan semua kejadian yang menimpanya. Ketika memandangi wajahnya, saya melihat ia sedang mencari jawabnya. Mungkin tak akan cepat ia menyimpulkan, tapi jawaban itu ada. Allah… berikan kemudahan baginya untuk memahami rencana-Mu.