woman of real beauty
smiles in trouble,
gathers strength from distress
and grows brave
thru reflection and prayer

   

<< May 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Life is a challenge, meet it.
Life is a gift, accept it.


Life is an adventure, dare it.
Life is a sorrow, overcome it.


Life is a tragedy, face it.
Life is a game, play it.


Life is a duty, perform it.
Life is mystery, unfold it.


Life is a song, sing it. Life is an opportunity, take it.


Life is a beauty, praise it. Life is a goal, achieve it


Life is a journey,complete it.
Life is a struggle, fight it.


Life is a puzzle, solve it.
Life is love, LOVE it.

[bUNgA-tAzKiya]
[dAiLy-jOurNaL]



bLoGWalKiNg tIMe
[mamal-Jkt]
[hanum-Bks]
[bangIman-Jkt]
[ummuNida-S'pore] [arulkhan-Jkt] [Ir@-Jkt] [Mommy&Zubia-Munich] [BidadariMungil-DenHaag] [UmmuThoriq-Sapporo] [yenthree-Jkt] [Woro-Woro] [MamiMela-Hokkaido] [Hani-Leich]


RecOMmenDed fOr U
[Voice for Islam]
[Gema Insani]
[Nakita-Anak]
[Republika]
[Belajar html]

[Questions of Life]
[Fountain Magazine]
[The Meaning of Life]

Tentang Indonesian Muslim Blogger


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



May 23, 2005
:: Ibu, Jelaskan Artimu Untukku ::

Ibu adalah kata-kata terindah yang terucap dari bibir manusia…

Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan, dan toleransi.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Ibu adalah jiwa kebadian bagi semua wujud.

Penuh cinta dan kedamaian.

(Gibran Kahlil Gibran)

 

Di sini saya termanggu, mendefinisikan sebuah kata sederhana namun terlalu sulit dicerna karena definisi itu tak pernah berdamai dengan memori ini. Cinta, kehangatan, mentari, adalah ibu.

 

Begitu indah Islam menggambarkan peran ibu dalam mencipta peradaban dunia. Tak terkira ungkapan Rasulullah agar kita memuliakan orang yang pernah mengandung kita selama sembilan bulan di tubuhnya.

 

Sepanjang 23 tahun usia, saya mencoba memaksakan semua definisi indah tentang ibu, tapi hanya kegagalan yang mendera. Ibu selalu membuat saya terluka. Ketika luka itu mulai mengering, ia dihantam lagi hingga berdarah. Begitu lelah saya menjalani hari dalam siksaan, menafikan pengingkaran saya terhadap definisi itu.

 

Bagi saya, ibu adalah sebuah tembok beton yang diplester dan dicat putih tanpa detail dan ornamen, apalagi lukisan. Di beberapa bagiannya ada paku yang mencuat ke luar, bukan satu tapi banyak. Mungkin ia suci tapi tak menyenangkan. Tak ada sentuhan yang membuat saya tersenyum bahkan tertawa melihatnya. Ibu saya… tak pernah berbicara, kecuali suruhan. Tak pernah bercerita kecuali tentang dirinya sendiri. Tak pernah bertanya sedikit pun tentang pelajaran saya hari ini, atau tentang nilai merah yang selalu duduk manis di sebelah pelajaran matematika saya. Sepanjang saya mulai belajar membaca hingga terakhir saya membenci matematika. Dan ini terjadi pada kesepuluh anak ibu, yang pada akhirnya memilih untuk lari dan menutup diri.

 

Sakit hati saya, karena saya ingin mengingkari semua kenyataan itu tetapi terlampau dalam rasa itu. Saya tersungkur lalu bangun dan terjerembab lagi saat memberi warna surga dalam definisi saya tentang ibu. Mulai dari janji-janji menata hati, sampai dengan coretan-coretan rencana usaha jangka pendek dan panjang dalam menghadapi ibu. Check list tentang hal-hal yang disukai ibu. Kiat-kiat pendekatan kepada ibu. Namun semua itu membeku ketika saya berada di hadapannya. Sentuhan yang dengan hati luar biasa kaku saya hadirkan di mata ibu, hanya menjadi sebuah aktivitas tanpa ekspresi, tanpa rasa. Dingin. Hampa.

 

Saya gagal setelah 14 tahun membasahkan  pelupuk dengan air asin yang terasa pahit di kerongkongan saya. Akhirnya saya memilih untuk membekukan hati. Meninggalkan ibu saya.

 

Tiga tahun saya tenggelam dalam dinginnya hari tanpa siraman kasih ibu.  Bahkan sebuah kalimat, enggan saya sodorkan kepadanya. Duh, Allah, betapa hati ini terkoyak menjauh darimu, dari telapak yang kata orang bersemayam surga di dalamnya. Tapi saya tak bisa membohongi hati dan perasaan saya terus-menerus. Salahkah saya dalam rasa ini, sedang kesembilan anak ibu juga merasakan hal yang sama, bahkan ayah. Sakit luar biasa. Ataukah kami semua yang durhaka pada ibu, pada Allah. Ya rahiim… mohon kasih-Mu.

 

Ibu… tolong jelaskan artimu….


Posted at 05:58 pm by albirru

fey
November 10, 2009   09:27 PM PST
 
bagiku ibu adalah segalanya dalam hidup... karena tanpanya aku takkan jadi seperti sekarang ini... beliau laksana matahari yang selalu bersinar tanpa pernah redup dan kenal lelah...kasih sayangnya akan abadi selamanya....
orin
July 21, 2005   03:33 PM PDT
 
mh... kata itu juga pertanyaan besar untuk orin. tapi satu hal yang jelas, walau ia bukan mentari yagn menyinari hidupku, bukan pula purnama yang menghisai kelam malamku, dan selalu mengeluh dan marah-marah, mengutuk, menyumpahi, pada kenyataanya, she is there when i need her. dia tidak menunjukkan cintanya dengan perlakuan lembut, pengertian atau buaian. tangannya keras dan kapalan, kulitnya busik dan bladus, mulutnya kasar dan comel, karena hidup untuk menghidupi aku telah menggerus semuanya dari dia. kesabarannya, kecantikkannya, dan keramahannya. mh.. udahah kok jadi melo gini ya... (orin---yang paling sebel sama ibu sendiri, but can't live without her)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry