woman of real beauty smiles in trouble, gathers strength from distress and grows brave thru reflection and prayer
[bUNgA-tAzKiya]
[dAiLy-jOurNaL]
bLoGWalKiNg tIMe
[mamal-Jkt]
[hanum-Bks]
[bangIman-Jkt]
[ummuNida-S'pore]
[arulkhan-Jkt]
[Ir@-Jkt]
[Mommy&Zubia-Munich]
[BidadariMungil-DenHaag]
[UmmuThoriq-Sapporo]
[yenthree-Jkt]
[Woro-Woro]
[MamiMela-Hokkaido]
[Hani-Leich]
RecOMmenDed fOr U
[Voice for Islam]
[Gema Insani]
[Nakita-Anak]
[Republika]
[Belajar html]
[Questions of Life]
[Fountain Magazine]
[The Meaning of Life]
|
|
|
 |
|
Apr 18, 2005
:: Hey... Where r u all guys??? ::
Sebelum sempat menghidupkan kompie, saya sudah ditarik untuk menggosip oleh teman-teman. Tema kali ini tentang tempat saya bekerja.
"Temenku bilang penerbit ini tu alirannya ini. Sama aja dengan penerbit itu yang alirannya syi'ah. Dia mempertanyakan aku. 'Gimana sih, kan dulu penerbit ini banyak nerbitin buku-buku harokah. Pokoknya punya ikhwan banget deh. Kok kamu kerja di situ?' Gimana ya mbak?"
Pffuiii.. cerita lama. Dan pertanyaan kesekian yang pernah dilontarkan pada saya. Beberapa orang bilang penerbit tempat saya bekerja tidak lagi bervisi ikhwan. Entah label itu sejauh mana beredar di sahabat yang saya pikir sefikrah dengan saya, tapi yang jelas saya dan tetangga di meja kantor ini semuanya alhamdulillah masih liqo, dengan gaya yang sama persis degan temannya teman saya yang bertanya. Dimulai dengan pembuka yang sama dan akhiran doa kafarat yang sama.
Sempat miris, tapi juga bertanya kepada pengemban visi-visi harokah yang tadi bertanya, Lho? Kalian kemana aja??? Kenapa juga mesti kabur?
Posted at 01:43 pm by albirru
Permalink
Mar 31, 2005
:: Saatnya Merevolusi Diri! ::
Hari itu saya sedang menangisi hari-hari saya yang hilang bersama lenyapnya beberapa sahabat dekat saya. Setahun waktu yang cukup untuk menjauhkan jarak dua sahabat. Sialnya hari itu hari ulang tahun saya.
Seharian awan kelam karena serapah saya pada pekerjaan, komputer, dan gerak cepat hari-hari yang merenggut orang-orang yang pernah membanjiri hari-hari saya dengan cinta dan perhatian. Di sinilah saya, di depan layar 14 inch yang terakhir ini membuat minus mata saya bertambah. Maki seperti apa lagi yang dengan bodohnya harus saya lontarkan pada monitor yang membisu. Harap apa lagi pada komputer lambret yang setia menemani pagi hingga sore saya selama tiga tahun.
Sahabat-sahabat itu pergi satu persatu.
Kami dipisahkan oleh seonggok benda tak bergerak yang mengharuskanku memijiti keyboardnya tiap hari. Tak ada pilihan selain berdamai dengan benda itu dan memintanya menjadi teman setia saya yang terakhir setelah buku harian yang mulai berdebu di rak reot di sudut kamar.
“Maaf ya diary… habisnya kamu nggak elektronik sih… Kalau kamu jadi program di komputerku kan aku bisa nulisin kamu setiap mulai kerja… Nggak mesti bawa-bawa di tas.”
Seperti lupa pada exiting-nya chatting berjam-jam di warnet besar psikologi dulu, Yahoo Messenger saya online di sudut desktop saya setiap hari tanpa ada satu baris pun nama dalam daftar. Sepertinya tidak zaman lagi mencari-cari teman di yahoo, chat berjam-jam dengan orang asing, atau berbalas e-mail dengan mereka. Orang Indonesia? Apa istimewanya ngobrol dengan orang Indonesia?
Dan lagi-lagi… saya terperangkap di depan perangkat komputer tanpa kompromi.
Sebah harus dinafikan dan hidup harus berjalan. Datar. Pagi, komplek pelni, ojek, kantor, naskah, desktop yang kian membosankan, photoshop, corel, pagemaker, sore, matahari menua, ojek, komplek pelni, tazq, tidur. Pagi, komplek pelni, ojek, kantor…. Pfuihh… Tak ada teman kecuali tujuh orang akhwat yang setia setiap pagi menyapa saya karena merasa senasib, menggantungkan harapan untuk bisa makan dari perusahaan pemilik komputer ini.
Suatu hari di milis penulis. Ucapan selamat untuk rekan yang baru saja melangsungkan pernikahan. Selamet ya… kalo jadi istrinya anak IMB, berarti kudu jadi sodara kita semua!!! Saya klik tulisan IMB yang berwarna biru. Apanya IMF, nih?
Indonesian Muslim Blogger. Ooo… blog itu… yang waktu itu pernah saya coba buat tapi gagal. Entah karena kegatekan saya atau blogspot-nya yang nggak level dengan saya, karena nama yang saya tulis nggak bisa dicerna oleh dia. Mungkin itu blogspot lemot!
Senang juga ngubek-ngubek situs itu. Ada foto-foto pertemuan anggota IMB di tepi danau UI. Idih… kok saya nggak minta ijin sama saya? Kan saya mantan anak UI… hehe…. Ada link ke situs-situs yang semuanya pribadi. Warna-warni, tulisannya bebas terserah yang punya. Wah… asik nih….
Seharian saya nyureng-nyureng sampai pusing demi punya sebuah BLOG. Dan besoknya sewaktu ada satu komentar di shoutbox saya, HANUM… kalo yang dipasang foto Tazq pasti lebih bagus lagi deh”. Waaaa… saya jejingkrakan karena ternyata it works!!! Tapi jadi malu karena ada yang ngomentarin foto saya yang mejeng di atas blog. Yah… namanya juga nyoba-nyoba masukin foto… dan yang ada cuma foto itu.
Setelah itu mulailah dahi saya berkerut-kerut melebihi selulit di perut ibu saya. Belajar html. Mbak Hanum yang paling berjasa memberi saya contekan dan memaklumi kegatekan saya. Saya mulai sering di-invite kajian muslimah. Mulai menjelajah ke blog-blog anggota IMB. Setiap saya membaca blog orang saya kok jadi malu ya? Blog saya duh… mengenaskan…. Jadinya saya hanya bersijingkat kabur dari blog itu tanpa meninggalkan jejak di shoutbox.
Sekian lama blog saya hanya punya dua entry tentang kegatekan saya ngeblog. Shoutbox pun hanya terisi tulisan Mbak Hanum satu-satunya. Rutinitas membosankan kembali menghajar tanpa saya dapat bernapas panjang. Bos minta ini itu, SDM negur ini itu, kerjaan menumpuk. Tapi saya masih sering ikut kajian muslimah meski hanya diam sejuta karakter. Sejak dulu saya tidak biasa chat segambreng begitu, selalu private di mIRC #Islam.
Terlibat dengan acara workshop kepenulisan, saya mulai bicara banyak dengan anak tongkrongan IMB yang berkali-kali dapat YM Awards (versi Arul) karena kesetiaannya kepada Yahoo Messenger dari pagi hingga sore. Selain Mbak Hanum, sekarang ada Arul “Kuch-Kuch Hota He” Khana, Bang Iman “Mat Solar” Widiyanto, Mbak Vita, Mbak Feb, Bang JOnru, Ummu Thoriq, Mbak Septi, Devi, Yentri, Mbak Tita, Ira (ofcourse…), Kang Oki, Imay, siapa lagi ya? Banyak…. Sapaan, canda, taushiyah…. Semuanya ketukan jari Richard Clyderman dan tiupan Kenny G. buat saya.
Blog saya dalam sekejap menjadi teman akrab yang menyenangkan, karena sama sekali tidak merepotkan karena saya tidak harus terfokus padanya saat ingin menuliskan sesuatu. Bisa sambil buat laporan, finishing cover, atau nusir gambar. Atau seperti siang tadi sambil tercengang-cengang mendengarkan nasyid –yang katanya—dibawakan oleh Michael Jackson pasca Islamnya. Semasa hari berat terasa karena timbunan tugas dan permintaan bos yang tak pandang bulu, blog saya seperti pantulan danau di kawah Galunggung atau hamparan eidelweiss di Gede. Tempat yang membayar kelelahan saya setelah melangkahkan kaki ke setapak undakan berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Meski saya tak begitu menguasai bahasa program, tapi saya cukup berpuas diri dengan tampilan blog yang sudah lumayan rapi dibandingkan ketika awal ngeblog.
Saya menemukan nada lagi di depan layar saya. Saya hidup kembali. Semangat kembali tersulut untuk mengoreskan kembali kata. Setelah sekian lama saya tak punya lagi asa untuk menulis. Kembali berenang ke sana ke mari sambil menikmati terpaan hangat mentari muda. Shoutbox saya mulai penuh, dan saya mulai berlari menebar bunga di bawah pelangi. Di sinilah saya mulai belajar lagi akan arti sebuah pertemanan, indahnya persaudaraan. Dengan apa yang saya baca di tiap-tiap blog teman-teman, saya mencoba mengenal dan memahami mereka. Dan sebuah noktah pemantik bernilai dunia bagi saya. Untuk selalu berkarya dan menjadi berarti. Bagi saya, blog tak akan hanya sekadar tempat curhat, tapi penggali semangat saya untuk terus belajar menulis. Dilatari oleh sapa dan canda teman-teman di komunitas IMB, tangan saya tergerak untuk menulis, menulis, dan menulis.
Dan seperti kalimat yang saya baca dalam naskah Teh Pipiet saat menilainya pagi tadi. Sebuah kutipan kata-kata Pak Fauzil Adhim,
“SAATNYA MEREVOLUSI DIRI!”
Posted at 09:43 am by albirru
Permalink
Mar 30, 2005
:: Siapa Punya Resep Kopi? ::
Penuh kepala ini mencari akal... bagaimana caranya supaya...
MATA MELEK CUKUP LAMA KETIKA SAMPAI DI RUMAH
Draft-draft tak ada finishing, cerita-cerita tak ada ending... itu semua menumpuk di flash disk saya. Semua ide dan keinginan... selalu takluk pada rasa kantuk yang menyerang tanpa ampun ketika kepala mencium bantal. Sebenarnya semua itu bisa saja saya kerjakan ketika Tazq tidak di samping, alias di kantor. Tapi saya tak pernah tenang mengerjakan itu semua, sementara tumpukan pekerjaan mengantri berdesakan untuk saya kerjakan.
Pukul tujuh malam. Keharusan bagi saya untuk berbaring. Inginnya tidak tapi tak ada daya untuk mengelak. Tazq harus bobok. Siapa lagi yang harus menemaninya minum susu menjelang tidurnya selain saya. Kecuali saya tak punya hati untuk membiarkan seorang anak tidur dalam belaian orang lain, padahal ibunya ada di sana. Dan di situlah... saat Tazq mulai merem-melek menikmati susunya sambil mengangkat tangan dan kaki tinggi-tinggi, sampai akhirnya terkulai lemas disertai dengkuran halus. Itu pun sering tak lagi bersama kesadaran saya.
Saat itu pula saya terbuai mimpi. Duduk mengetuk-ketukan jemari di atas keyboard setelah menancapkan flashdisk pada USB. Meneruskan cerita dari ide yang berlompatan di kepala. Menikmati dialog dengan tokoh-tokoh khayalan. Atau... menikmati sapuan brush-brush dalam tool photoshop. Mengutak-atik gambar untuk header blog... untuk hiasan di blog. Mungkin juga belajar html rekomendasi dari Mbak Feb yang cantik. Menyelesaikan editan yang tak kunjung selesai... Uuugh...
SAYA BERMIMPI!!!
Bermimpi dalam arti sesungguhnya.
Apakah saya terlalu berambisi? Terlalu banyak keinginan tanpa ada kemampuan dan mengaca diri?
Ughhh... coba beri saya resep kopi enak yang bikin MELEK.... Plissssss
Posted at 02:10 pm by albirru
Permalink
Mar 15, 2005
:: Tentang Gusum Hanim ::
Suatu kali saya pernah diminta mengajar privat bahasa Indonesia. Sebenarnya saya tidak terlalu suka mengajar privat, apalagi yang mesti saya ajar adalah istri dari guru bahasa Turki saya di kampus, Gusum Hanim. Dan akhirnya terjadi adalah, Gusum Hanim mengajarkan saya memasak masakan Turki! Gusum Hanim adalah seorang sarjana kedokteran gigi di Denmark yang baru saja diboyong ke Indonesia oleh guru saya. Di negara ini, ia bekerja sebagai ibu rumah tangga. Cukup mengagetkan bagi saya, seorang sarjana yang seusia dengan saya, yang cantiknya seperti Tamara Blezensky, lebih memilih di rumah menangani pekerjaan domestik. Dan memang, dari sekian Hanim (Ibu) yang saya temui di komunitas teman-teman Turki, tak ada satu pun yang bekerja. Kerjanya ya, mengurusi anak dan suami mereka. Tak heran Gusum Hanim begitu cekatan menangani berbagai tugas rumah tangga.
Pernah ia bercerita dengan senyum bak bunga matahari, tentang fenomena pembantu di negeri ini. Ia cukup heran karena tak pernah seumur hidupnya sebagai imigran di Denmark, mempekerjakan seseorang untuk menangani pekerjaan rumah tangga. Mungkin karena semua pekerjaan itu ditangani oleh ibu dan anak-anak perempuannya. Pun ia masih mengeluhkan beberapa Mbak (istilah Gusum Hanim untuk pembantu) yang pernah menjadi pembantu di rumahnya. Katanya para Mbak itu seringnya malas. Apalagi yang masih muda, suka pacaran! Saya tergelak karena beliau bercerita dengan ekspresi yang penuh. Buku latihannya penuh oleh coretan tangannya, menggambar wajah pembantu tetangga ikhwan Turki yang disukai oleh pembantunya.
Saat itu sekian kalinya saya bertandang ke rumahnya pagi-pagi. Seperti biasa kami lebih banyak ngobrol daripada belajar. Kali ini ceritanya tentang musim dingin di Denmark. Tanpa sungkan ia mengajak saya ke kamarnya melihat koleksi sepatu boot-nya yang tak terpakai. Sebenarnya saya agak rikuh, mungkin karena ia begitu terbuka, begitu ramah dan hangat kepada saya. Belum pernah saya merasa seperti teman dekat kepada Hanim, kecuali teman-teman Turki yang sebaya. Mungkin karena Gusum Hanim masih sangat muda, seumur saya.
Siangnya kami sibuk di dapur, karena Hoca (guru) Mustafa menelepon bahwa teman-temannya akan datang saat makan malam. Lumayan lah, kursus masak gratis. Saya mengaduk-aduk Manti (terigu pilin dengan kuah susu dan yoghurt) di dalam panci, sementara Gusum Hanim menguleni Hamur (adonan terigu). Setelah dibentuk kecil-kecil dan diisi daging, adonan itu diletakkan di atas loyang besar. Di setiap rumah orang-orang Turki yang pernah aku datangi, pasti ada sebuah oven guede (saking besarnya) di dapur. Dan semua peralatan memasak yang sangat lengkap. Dan semua perempuan Turki yang pernah saya temui pasti sangat jago memasak. Begitu juga mengerjakan pekerjaan yang menurut saya “cewek banget”, misalnya merajut. Di rumah Ayse, teman saya yang belum menikah, semua hiasan rajutan merupakan hasil karyanya. Bahkan handuknya dihiasi dengan rajutan bunga-bunga. Semuanya jadi terlihat cantik dan manis. Menurutnya, perempuan Turki harus bisa merajut jika ia akan menikah. Wah… menurut saya mereka begitu serius dan sepenuh hati dalam melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga. Bukan saja membuat semua pekerjaan rumah terlaksana, tapi juga menjadikan sentuhan tangan mereka begitu indah dan berkah, karena dikerjakan dengan rasa senang.
Borek isi daging sudah dikeluarkan dari oven. Roti bulat-bulan kecil itu nampak lezat baunya. Dua loyang besar. Huahh… tak sadar saya menunjuk makanan itu satu-satu sambil menghitung. Satu… dua… tiga…. Tiba-tiba Gusum Hanim menangkap tangan saya. “Tidak baik menghitung-hitung makanan. Tidak berkah.” O… ooh… kalimat yang membuat saya cukup melongo.
Menghitung makanan adalah hal yang sangat lumrah bagi saya, dan mungkin juga untuk orang Indonesia. Apalagi untuk ibu saya, yang selalu menghitung dan menjatah makanan untuk kesepuluh anaknya. Baru kali ini saya mendengar, tapi kok terasa indah ya? Lebih tepatnya… nnng… lapang!
Saya jadi ingat kebiasaan ibu saya yang suka menyimpan-nyimpan makanan hari ini untuk besok, atau untuk anggota keluarga yang hari ini tidak ada. Semua harus kebagian, prinsipnya. Entah kenapa sistem yang dipakai ibu saya sering membuat saya perlu menarik napas panjang. Sepertinya dada ini sempit karena harus memikirkan esok. Khawatir besok tidak ada makanan. Kenapa harus menghitung-hitung cukup atau tidak. Toh itu semua rezeki kita hari itu. Harus dicukup-cukupkan dan disyukuri. Kenapa pula harus mengkhawatirkan rezeki esok hari. Toh kita berusaha, rezeki telah ditetapkan.
Posted at 12:34 pm by albirru
Permalink
Mar 14, 2005
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155).
Ketika gelombang dahsyat tsunami menghantam wilayah paling barat Indonesia, semua sisi kehidupan luluh lantak tak ada sisa. Berhari-hari aroma kematian menebar duka yang menoreh dada. Anak kelihangan ayah-ibu, suami kehilangan istri dan anak, ibu harus melepas jantung hati. Tak ada harta yang tersisa, kecuali nyawa dan jiwa yang tinggal setengah karena terkoyak bencana yang menguncang dada.
Setelah berbulan berlalu, mungkin tak sempat terlintas dalam benak dan perasaan kita betapa perihnya arti kata kehilangan. Kehilangan keluarga, harta, dan mungkin masa depan bagi orang yang putus asa. Rasa takut yang hebat mencekam ribuan kepala di sana. Saya pernah suatu kali tak punya uang seperser pun di tangan, sementara saya dan suami masih harus hidup sampai masa gajian tiba, satu hari lagi. Saat itu saya merasa khawatir, bingung, tak tahu harus bagaimana. Padahal, saya hanya “tidak punya uang,” padahal saya masih bisa mengambil uang yang cukup di ATM! Begitu pun rasa itu yang mengaliri jiwa saya ketika suami tersayang tergolek dengan panas sangat tinggi karena demam berdarah. Sepertinya ada sebuah rasa yang menyodok-nyodok dinding hati dan menyedot jiwa hingga tak utuh lagi. Rasa itu bernama ketakutan. Takut kehilangan!
Rasa itu juga yang sempat terlintas dalam pikiran saya saat membayangkan peristiwa yang menimpa saudara kita di Aceh. Meski dengan kapasitas yang berbeda karena pengalaman dan latar belakang yang berbeda, setidaknya saya sedikit memahami rasa yang selama sekian minggu menghinggapi penduduk Serambi Mekah itu. Ketika saat itu saya berusaha mentransfer sejumlah uang untuk seorang teman di Banda Aceh, saya terhenyak. Dengan apa ia mengambil uang itu? Kartu ATM pasti hilang, Bank? Bahkan banknya pun hanyut! Pada awalnya yang terpikirkan hanya prosedur biasa seperti siang tadi saat saya mengambil uang di ATM. Rasa itu kembali menjelma. Lantas dengan apa teman saya menjalani hari-harinya? Bagaimana jika ia lapar? Bagaimana jika ia harus mensterilkan botol susu anaknya? Bagaimana jika ia harus membersihkan softlens yang dikenakannya? Di mana ia bisa dapatkan cairan pembersih softlens?
Kehilangan, kekurangan, rasa takut. Kadang menjelmakan kebencian dan gugatan keadilan dari manusia. Perang berkepanjangan di Palestina, demo-demo di depan gedung DPR, bahkan maraknya copet di kendaraan umum dan terminal, berawal dari rasa kekurangan, kehilangan, dan rasa takut. Takut kehilangan materi yang selama ini pernah menjadi bagian hidup kita. Manusia menuntut keadilan kepada manusia. Itu hak mereka, karena hak-hak mereka, bagian hidup mereka direnggut. Tetapi jika manusia menuntut keadilan kepada Yang Maha Adil, tentu ini menjadi tanda tanya yang cukup besar untuk membuat dahi kita mengernyit. Apakah Allah merenggut hak kita untuk merasakan kesenangan, kemewahan? Apakah keMahaAdilan Allah harus dipertanyakan kembali? Lalu kenapa Dia memberikan kemewahan dan kesenangan kepada sebagian orang, lalu menimpakan kekurangan dan rasa takut ke sebagian lainnya?
Maha Suci Allah yang menciptakan rasa takut di dalam dada manusia. Ternyata kehadirannya sengaja diselipkan dalam dada manusia dengan tujuan yang suci, bukan semata menjadikan penderitaan kepada orang yang dibebani. Semua itu adalah cobaan bagi kita, sebuah ujian. Maksud ujian adalah untuk melihat kemampuan diri, sejauh mana kita bisa mengerjakan “soal-soal kehidupan” dari Allah.
Saya pernah punya seorang guru yang hobinya mengadakan test mendadak di akhir atau di awal materi pelajaran. Semua soal yang dikumpulkan dikembalikan kepada kami hari itu juga tanpa diberi nilai. Hanya diberi sedikit coretan di tempat kesalahan kami. Awalnya saya pikir Pak Guru berkumis tebal itu telalu kejam dengan ulangan-ulangan mendadaknya. Ternyata beliau hanya ingin melihat sejauh mana pelajaran yang telah disampaikannya kepada kami “berhasil” dengan baik tercerna di dalam otak. Semakin sering ujian diadakan, semakin kami sering bersiap-siap belajar. Akibatnya, tingkat pemahaman dan kualitas ilmu kami lebih baik dan teruji.
Maha Guru kita adalah Allah, Dia memberikan berbagai pelajaran penting dalam hidup ini agar dapat digunakan oleh kita untuk “survive” di dunia. Dia menguji kita, pion-pion kecil di dunia ini, untuk meningkatkan kualitas diri hingga mencapai tingkatan tertinggi, yakni taqwa. Ujian yang diberlakukannya bagi kita adalah: rasa kehilangan dan kekurangan. Sanggupkah kita menempuh ujian dari-Nya dan bagaimanakah kita menjalani ujian tersebut. Apakah dengan senyum yang menghiasi wajah, ataukan dengan bersungut-sungut? Dan inilah sesungguhnya yang terpenting dalam hidup kita; sebuah proses. Sebuah proses akan menentukan kelas kita. Semakin kita tertempa dengan baik, semakin bagus hasilnya.
Pernahkah terpikir, sebutir batu permata yang berkilau indah berasal dari sebuah mineral kusam yang jelek? Karena ditempa dengan panas yang teramat tinggi selama waktu yang cukup panjang, ia menjelma menjadi sebuah perhiasan indah yang pantas mempercantik seorang puteri raja. Alangkah beruntungnya jika kita bisa menjadi permata-permata itu! Yang hanya pantas disandingkan dengan surga dan keindahan menatap wajah Pemilik alam dan semua keagungan. Permata itu adalah jiwa tangguh yang menjalani tempaannya dengan senyuman, dengan kesabaran.
Maka, Sahabat, jalan ini masih panjang. Tataplah ke depan. Ujian masih banyak yang belum kita tempuh. Putus asa adalah milik pecundang. Jangan pernah takut dan mundur karena cobaannya. Karena, sesungguhnya Allah mencintaimu!
Posted at 11:21 am by albirru
Permalink
Mar 8, 2005
Jumat ini libur. Anak2 akan menginjak tanah Gunung Gede. Kangen. Kegiatan yang selalu jadi kenikmatan tersendiri buatku. Menciumi udara hutan tropis yang basah, meringkuk di sleeping bag dalam tenda dum yang tetap saja dingin. Merasakan hangat ternikmat dari api yang memercik dari parafin... Huahhh... kangennn!

Posted at 01:35 pm by albirru
Permalink
Mar 4, 2005
Hari ini ke rumah Mbak DYF. BRu aja lahiran putra ke-4. Muhammad Jibril. Lama juga nggak ketemu. Kangen sama Muhammad Kanz yang ganteng dan menggemaskan. THe most amazing cute boy i ever know. Rambutnya tetap bule, tapi pipinya udah agak kempes. Nggak terlalu bayi, tapi tetap bawel dan lucu.
Pertama kali datang,
1. BEngong dulu. "Wah... ini bidadari kok ada di rumahku?" (huaaaaaa........)
2. Yang pertama dilakukannya setelah didekati: Mencium tangan aku sambil MENGGIGIT punggung tangan!!!
3. Loncat-loncatan sambil nyengir lebuaaaaaaaaaaaaaaar!
KEsimpulan: Ternyata sama aja kayak dulu!
Posted at 01:54 pm by albirru
Permalink
Mar 3, 2005
Doakan Aku, Sayang
“Kamu berhak mendapatkan yang terbaik.”
Kalimat itu muncul kembali dalam benakku. Pernah terluncur dari bibir sahabatku saat
percakapan panjang di telepon itu berakhir pada keputusanku untuk tetap
menikahi seorang lelaki yang menurutnya tidak tepat untukku. Lelaki itu
kini menjadi ayah dari calon anakku.
Seminggu kami berdebat. Dia sahabatku tersayang, tempat biasa aku bercerita
banyak, mungkin sambil tergugu. Tentang aku, tentang dia, tentang ibuku
yang dingin, tentang ibunya yang kolot. Tentang adik-adik kelas kami di
sekolah borju yang semakin memprihatinkan. Tentang kampus berembun
ditingkahi gilasan roda kereta di rel. Di tengah kedongkolan akan jadwal
telat kereta yang berbarengan dengan jadwal kuliah Pengantar Lingustik
Umum. Sambil berbicara tentang kakaknya yang sudah menginjak tiga puluh
limaan tetapi belum ditemani pendamping. Kini kami berdebat tentang sesosok
lelaki yang berniat menjadi pendampingku. Dan kini tidak lagi ditingkahi
hiruk pikuk suasana Tebet-Depok, melainkan melalui sambungan telepon
kantor.
Temanku ini yang bertugas “mewawancarai” lelaki itu. Pada awalnya begitu
banyak kesamaan yang diceritakan temanku itu tentangnya. Katanya aku begitu
banyak miripnya dengan lelaki itu. Aku suka berpetualang, begitu juga dia
yang suka kemping ke sana ke mari. Ketika menelisik lebih jauh dirinya,
banyak juga perbedaan dalam diri kami. Dan temanku yang pertama kali
menunjukkan itu. Ternyata ia bukan orang berada, karena itu dulu ia harus
mengalah berhenti dari kuliahnya demi adiknya, dan dia harus bekerja.
Padahal saat itu ia baru saja mencicipi semester tiga informatikanya. Saat
ia bingung harus memikirkan bagaimana mencari tambahan biaya untuk
keluarga –karena ayahnya baru saja diPHK—mungkin aku sedang duduk-duduk
bersama teman kuliahku sambil bersenda di kursi taman kampus. Lalu saat itu
ia harus rela hanya kuliah diploma satu demi menggenggam sebuah ijazah
selain ijazah SMU.
Karena itulah, kemudian mencari definisi sepadan menjadi sangat sulit bagi
kami. Dan temanku tersayang yang pertama kali melontarkan bahwa mungkin aku
bukan untuk lelaki itu dan dia bukan untuk aku. Berhari-hari aku mencari
jawaban. Apakah tesis itu benar adanya? Semua yang aku tanya rata-rata
menjawab demikian. Terlebih lagi kakak ipar lelakiku. Lelaki itu tidak
pantas untukku.
Entah mengapa ada satu sisi nuraniku yang mengatakan itu tidak benar.
Apakah kalau aku lulusan sarjana sementara calon suamiku hanya lulus
diploma satu, menjadikan kami tidak serasi satu sama lain? Apakah dengan
kewajibannya secara ekonomi terhadap keluarga menjadikannya tidak pantas
untukku? Lalu bagaimana dengan Muhammad? Apakah ia tidak layak untuk
Khadijah? Hanya karena Muhammad seorang lelaki miskin?
Mungkin aku yang terlalu naif atau temanku yang realistis. Aku tidak tahu.
Mungkin orang bilang aku gila. Tapi aku tidak bisa menafikan satu suara
yang mengatakan bahwa semua itu atribut dunia yang sifatnya relatif, serba
tidak pasti, dan sementara. Dan aku tidak ingin keputusanku aku sandarkan
pada hal-hal yang aku pikir tidak sesuai dengan orientasiku. Kampung
akhirat. Akhirnya kami mendapatkan kesimpulan yang bertolak belakang. Dan
akhirnya aku memutuskan untuk menikahi lelaki itu.
“Jadi aku berhak mendapatkan yang terbaik, sementara dia nggak? Seorang
residivis pun berhak, kau tau?!” tangkisku sewot. Sementara di ujung
telepon, suara khawatir temanku terdengar semakin perlahan.
“Aku pengen kamu mendapat yang terbaik. Itu aja,” ujarnya putus asa.
“Ya, aku mengerti,” lirihku. “Aku hanya merasa aku bukan apa-apa. Tidak
pantas aku minta yang terbaik. Aku sudah curhat sama Allah, dan aku hanya
menemukan jawaban ini. Doakan aku ya. Semoga ini benar-benar keputusan dari
Allah. Semoga ini yang terbaik.” Kalimat itu yang terakhir aku ucapkan
kepadanya.
Pagi agung, saat sebuah janji nikah diucapkan lelaki itu di depan ayahku.
Sebutir air mata jatuh dari bening mata temanku. Tapi bibirnya membentuk
senyum untukku. Doakan aku, sayang… doakan aku, bisikku.
Days before d marriage
al Birru, tebarkebaikan@yahoo.com
Posted at 09:40 am by albirru
Permalink
Mar 2, 2005
"STAR has 5 ends, SQUARE has 4 ends, TRIANGLE has 3 ends, LINE has 2 ends, Life has 1 end, but OUR FRIENDSHIP HAS NO END", WHAT IS HAPPY DAY? H're u hon...
Rasanya kosong sewaktu tulisan itu muncul di layar 2100-ku. Rasa kangen yang terlupakan menyeruak saat itu juga. Aku merasa sendiri. Palsu. Dingin. Seperti dipertanyakan arti persahabatan. Setahun lebih aku punya "someone special", dan setahun itu pula aku kehilangan "a lot of special person." Entah absah atau enggak, tapi ada yang hilang dari sisiku.
Kemarin hari ulang tahunku, sms-sms. KEjamnya aku sama sekali nggak ingat kapan ultah mereka, bahkan terakhir aku menyapa... yaa... sebelum ramadhan.
Sejak detik terakhir aku menyatakan kesanggupan untuk berbagi hati, aku selalu merasa takut. Khawatir kehilangan orang-orang yang selama ini meramaikan ruang hati. Kehilangan agaknya sedikit mengerikan. Mengejanya seperti berdiri di bibir tebing dengan jurang menganga di bawahnya. Ralat: Sangat mengerikan! Kalau aku pikir... kenapa mesti?? Seharusnya kan tambah ramai?? Nampaknya "someone special" ini sudah memenuhi ruang hatiku hingga ke dinding-dinding, lantai dan langit-langitnya. Full loaded!
Apa artinya ini???
Tak banyak orang di sekelilingku!!!
Sementara pagi-siang-soreku hanya antara komplek PELNI dengan Juanda. Jarak 10 menit. Rumah-kantor. Komputer dan komputer. Pekerjaan kantor-pekerjaan rumah. Tugas kantor-order sampingan. Naskah, format-format penilaian, program-program pagemaker, photoshp, corel, yang sering membuatku enjoy, kadang membuat muak.
Tak banyak waktu dengan Tazq.
Tazq... Seminggu senyumnya menghilang. Badannya agak panas sekitar 3 hari. Saat itu juga dia 3 kali jatuh dari tempat tidur karena kealpaanku. Kata suamiku dia protes. Tatapan matanya yang bingung melihatku menangisi peranku yang amburadul sebagai ibu membuatku semakin memeluknya dan membuatnya semakin bingung.
Aku merasa tak ada makna.
"Selamat hari lahir ya min. Wah, kbrnya gmn ibu qt yg satu ini, gak ada beritanya nih!"
Rasanya aku harus break. Hikss... Tissue mana ya??
Posted at 03:02 pm by albirru
Permalink
Dear restless heart, be still;
Don't fret and worry so;
God has a thousands ways His love and help to show;
just trust, and trust until His will you know ....
Dear restless heart, be brave;
don't moan and sorrow so
He hath a meaning kind in chilly winds that blow;
just hope, and hope, and hope, until your braver
grow ...
Dear restless heart, be still;
Don't struggle to be free
God's life is in your life, from Him you may no flee
just pray, and pray and pray, until you have faith
to see...
Posted at 02:18 pm by albirru
Permalink
|
|
|