|
Ketika ia menimpa saudara dekat, yang kebersamaannya melebih kebersamaan saya dengan keluarga, sepertinya saya tidak terima dan merasa terkhianati. Saya merasa terabaikan. Bagaimana mungkin ia dapat melakukan hal-hal yang dilaknat Allah sementara saya hadir di sisinya selalu. Membagi suka dan air mata. Meluangkan waktu untuk keluhan-keluhannya yang kini saya kira tak ada guna. Arti nasehat-nasehat (atau reminder) saya selama ini berarti hampa. Tak ada makna. Tak hentinya saya menyumpah pada diri saya, betapa begitu bodohnya saya tertipu. Tertipu oleh teman sendiri. Ya, saya merasa telah dibohongi! Entah dengan apa saya memahami alasan dirinya. Harus bagaimana saya menjejali otak ini dengan logikanya yang semrawut, setidaknya menurut saya yang masih berusaha mengalirkan asma-Nya dalam tiap gerakan partikel darah ini. Allahku... sakit rasanya. Tolong obati... Sobat, maaf... aku akan melepaskan dirimu. Terlalu sakit. |
| ida May 3, 2006 03:15 PM PDT apa benar2 telah kau enyahkan dia hingga saat ini?? apa tidak ada pengampunan?? | ||
| Name May 23, 2005 02:51 PM PDT Itulah selemah-lemah iman. diakui atau tidak, kenyataanya demikianlah yang disabdakan rasulullah. Namun, apakah kita kan selalu di posisi selemah-lemah iman? kadang, ketegasan memang diperlukan Kadang, keberanian bertindak memang dibutuhkan Kadang, Kesiapan menanggung resiko adalah keniscayaan Kapan lagi kita tunggu, Saat untuk melawan kedholiman dan kemaksiatan dengan segala resiko bukan sekedar melepaskan tapi mengenyahkan seakar-akarnya Walau mungkin harus berceceran darah segar Sebagai saksi di hadapan Allah Atas bukti cinta pada-Nya walau meregang nyawa gapai syahadah sambut bidadari sorga | ||
| Leave a Comment: |