Entry: :: Gibran, You God Damn Right! :: May 27, 2005



Ibu adalah kata-kata terindah yang terucap dari bibir manusia…

Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan, dan toleransi.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Ibu adalah jiwa kebadian bagi semua wujud.

Penuh cinta dan kedamaian.

(Gibran Kahlil Gibran)

 

Dua puluh tahun usia saya, mencari makna kata Ibu. Separuh jiwa saya terpakai ketika berusaha menuliskan definisi tentang ibu. Dan sebuah keajaiban, kini saya adalah seorang ibu, dan mengenal sosok lain seorang ibu selain ibu yang pernah mengandung diri ini.


Mama, panggilan saya pada seorang yang melahirkan belahan jiwa saya, suami terkasih. Mama…. Selalu hanya cekat yang ada di tenggorokan ketika melihat sosoknya. Betapa ia telah menghentikan pencarian saya akan definisi seorang ibu. Dahulu saya tidak pernah melihat bentuk sebuah tugas keibuan, dan tak pernah membuktikan keindahan definisi itu.

 

Mama… kehidupan yang berdenyut di rumah itu adalah Mama. Ketegaran, kesetiaan, pengabdian, keceriaan, ketelatenan, keharmonisan, ketulusan, adalah Mama.


Sejak delapan tahun yang lalu Papa tak lagi bekerja. Kena PHK. Sejak itulah arti kesetiaan diuji dalam diri perempuan yang saya kenal sejak dua tahun yang lalu itu. Dalam kesederhanaan, beliau menjadi mentari bagi kelima anaknya. Maksud saya dengan mentari adalah... menjadi hidup untuk kehidupan. Tanpa hidupnya, nampaknya sulit ada kehidupan yang lain.


Sejak SMP saya selalu mengerjakan semuanya sendiri. Mencuci, menyetrika, bahkan seringkali masak. Entah apa tujuan ibu, tetapi memang Ibu tak mau melakukan itu semua untuk saya. Mungkin terlalu banyak tugas yang dikerjakannya. Dampak baiknya memang saya menjadi orang yang amat sangat mandiri, bahkan sampai punya pikiran bahwa saya tidak membutuhkan ibu -kecuali untuk melahirkan saya saja. Ketika berada di rumah suami saya, cukup terhenyak juga saya karena semua... sekali lagi, semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Mama. Mencuci semua pakaian, memasak, menyiram, menyapu, mengepel, semuaaaa Mama. Sampai saya nggak enak ati sendiri meletakkan pakaian kotor di keranjang. Tapi Mama tak pernah membiarkan saya mengerjakannya sendiri. Tak ada keluhan sedikit pun. O...oooh.. kalo begini caranya kata-kata Gibran itu benar.

Mama... saya bisa mengobrol dengannya tanpa jeda. Dengan ibu... ooh... no! Hanya cekat yang mencekik tenggorokan saya hingga saya terkaget-kaget sendiri mendengar suara aneh yang keluar dari mulut saya sendiri. Really not me! Kaku dan datar.

Ketika anak saya lahir, Mama yang mengajarkan saya memandikannya. Kini... beliau yang menjaganya 8 jam, padahal saya sendiri hanya 4 jam dikurangi waktu tidur. Kalau dibandingkan dengan keponakan saya yang tinggal di rumah saya dulu, paling hanya sekali digendong ibu dalam sehari. tak ada istilah "makan sama Nenek", atau... "dimandiin Nenek." Hehe.... Kasihan....

   1 comments

ummuthoriq
June 16, 2005   12:37 PM PDT
 
pa kabar? susah euy ngisi shoutboxnya sekarang , hehe..

selalu minta kode, terus error deh, hiks

ya udah isi sini saja

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments